Jangan Sesali AKHIRnya....
Pilu
rasanya mengenang langit yang mulai pudar akan indahnya,terik matahari yang
dihalang perdu sudah tak tampak cahayanya. Hari ini hanya songsongan angin yang
menghembus dengan geramnya tanpa
menghiraukan mereka yang dilaluinya. Tak ada hujan, tak ada panas namun tanah
ku begitu gersang dan tandus tanpa penghuni. Ya Allah, apakah ini teguran Mu
ataukah ini hanya lelucon yang sedang mereka adegankan? Entahlah, rasanya masih
sesak di pelepis dada menyaksikan asap-asap yang menyelimuti kami.
Rabu,2 September 2015, masih dini
rasanya merakasan gebu-gebu dalam jiwa untuk mengawali pagi dengan status
mahasiswa , gontaian kaki yang menyisiri setapak jalan merupakan semangat yang
baru terbakar. Entah apa yang membuat mentari pagi mogok bersinar sehingga
bayangan tak kunjung terlihat. Awam rasanya bagi kami yang datang jauh dari
pelosok negri sana, menyaksikan gumpalan awan yang lengkap dengan warna pekat
menyelimuti kota hebat ini. Tak ada yang berubah dengan tatanan kota, masih
sama dengan dua atau tiga hari yang lalu, hanya saja penduduk yang sudah mulai
menggunakan penutup wajah.
Waktu menunjukan pukul 09:15, langkah kaki
berhenti didepan ruangan A1, dengan nafas yang masih tersengal di ujung
kerongkongan, batin ku berbisik “hai new class,how are you? What are doing?what
your feel same to me for today?” . Entah mengapa kata-kata itu terbesit disaat
mata ku menyisiri sudut-sudut ruangan
itu. Sontak kesunyian itupun buyar,
sosok wanita berparas khas melayu menyapa ku “macam bangau kau termenung disitu
ci, ayolah masuk” , sulit bibir ini menjawab karena masih terpaku oleh fikiran
tadi “i iya na,kamu ini mengejutkan saja” yang di balas senyuman halus seorang
Diana .
Empat jam terlalui laksana fajar
sudah habis rasanya, tinggal lembayung senja yang mulai tampak identitasnya. Namun, pekatnya
asap yang tadinya kuduga awan tak mau
beranjak juga. Masih dengan keadaan yang sama menyisiri jalan yang serupa dan
tak ada yang berubah, hanya saja langit biru tak kunjung ceria bahkan matahari
hanya sebuah pajangan semata tanpa melihatkan cahaya hebatnya. “Ya Rabb, ku
harap esok matahari datang dan membawa
sinar indahnya kembali” sembari berjalan menikmati asap yang bergelayut di udara.
Pagi ,siang dan menyongsong malam
hadir dengan begitu sigapnya, terasa hidup diatas awan yang tak kunjung berubah
menjadi butiran air hujan. Mungkin ini kali pertama bagi seseorang yang baru
saja beranjak dewasa dan melepas seragam sekolah menengah atasnya menyaksikan
malam yang amat gelap gulita. Langit yang tadinya suram kini berubah menjadi
lebih legam, rembulan yang biasa menemani malam kini hilang di telan awan hitam.
Taburan bintang yang seperti kismis kini hilang tertutup krim asap,berharap ada
badai malam ini untuk menyingkap semua asap ini.
Malam berganti pagi tak ada sedikit
pun terdengar suara ayam berkokok, mungkin benar matahari sedang istirahat
sejenak untuk hadir pagi ini. Sinar merah di ufuk timur tak kunjung terlihat,
hanya gumpalan asap yang makin tebal dan menari indah di angkasa. Sudahlah jangan berharap lebih matahari hadir pagi ini,
cukup tutup mata saja berjalan kali ini. Masih canggung rasanya berjalan
sendiri di antara kendaraan yang lalu lalang, orang-orang tumpah pagi ini dan
sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Begitupun asap yang sibuk mengikuti
pusaran angin dan entah kemana akan beranjak,semoga saja jauh dari perkiraan.
Kini
bukan perdu saja yang hilang dari pandangan namun juga gedung-gedung menjulang
sudah tak tampak dari radius duapuluh meter, atap UR yang biasa terlihat dari
luar pagar kini hanya tampak asap yang bergelayut diantaranya. Asap yang
bertengger mampu menyulap orang-orang dari jarak sepuluh meter seperti zoumbie
yang tak berdarah , “aishh,tak adakah dari mereka yang berbaik hati
menumpangkan diriku yang tambun ini, andai saja diriku memiliki seorang kekasih
seperti mereka diluar sana.”gerutuku dalam hati namun segerah ku tersadar “Separuh
hidupku ku jalani sendiri ada atau tidak adanya cinta tidaklah masalah bagiku,
karena sesungguhnya cinta dan keridhaan-Nya lah yang ku harapkan.
Helaan
nafas masih juga terdengar dari mulut ini, seperti tak percaya dan tak
terfikirkan asap makin hari makin tebal saja. Sembari berjalan, terdengar kabar
seorang anak SD meninggal akibat gagal bernafas “ya Rabb, sudah Kau goncangan
dunia ini dengan gempa dasyat dan kini Engkau hantarkan asap yang tak kunjung
hilang ini,tak pernah lengah kami berdoa untuk dunia nan fana ini ya Rabb, agar
asap hilang dan segera menyingkap dari peredaran tanah kuning ini” tuturan doa
yang terlontarkan saat tangan menadahkan kepada Nya.
Langit
biru ku sirna, pepohonan rindang ku menghitam,udara ku tak lagi bersih dan
tubuh tak lagi berdaya melawan asap yang makin hari makin menggila ini.
Berharap hujan badai datang hari ini dan membawa sejuta kenikmatan dari sang
maha agung, pohon ku mulai merajuk karena tak sanggup mengeluarkan oksigen,
udara tak lagi ingin lalu lalang di hadapan manusia, karena kalah oleh asap
yang menghitam ini . ” Ya Rabb kini kami tadahkan tangan menghaturkan doa agar
Kau mau memberikan secerca harapan
kepada mereka yang senantiasa beribadah dihadapan Mu, sebait doa agar
Kau mau memberikan nikmat dunia segelintir saja agar kami bisa selalu
bersenandung untuk Mu ya Muhhaimin, ribuan insan yang bergelimang dosa meminta
kemurahan hati Mu untuk menghidupi paru-paru yang mulai lumpuh ini Ya Rahim”.
Ratusan jamaah shalat dan berdoa untuk meminta hujan agar turun di tanah
kuning nan gersang ini, ribuan tangan dengan rintikan air mata mengharap
kemurahan sang Ilahi untuk menurunkan hujan yang mampu menyingkap semua asap yang bersorak ria di hadapan juta insan
.
Tepat
pukul 15:20, semoga hujan ini benar-benar membawa berkah bagi kita semua namun
apa di kata hujan yang tadinya membuat mata berbinar menyaksikannya ternyata hanya mampu hadir tak kurang dari
lima menit saja. Mata yang tadinya sayup ingin menitikan air mata berubah jadi
gundah gulana tanpa celah. “untuk kedua kalinya hamba kecewa Ya Rabb, berharap
rintikan hujan yang kau berikan mampu menghalau asap pekat ini,tak kah kau mengerti Ya Rahman bukan hanya hamba yang
bersedih penyaksian ini tapi mereka yang tak berdaya melawan asap ini hanya
mampu menopang dagu tak bersalah mendapat buruknya kejadian ini, Ya Allah tak
pernah ku meminta lebih kepada Mu, namun kali ini memang seharusnya hamba minta
yang terbaik untuk kami semua, Ya Rahman , Ya Rahim kunjungilah dan jamak
setiap doa kami agar hujan yang kami impikan benar-benar turun mengguyur kota
yang penuh maksiat ini”, rintikan air mata tak dapat ku bendung lagi hanya tisu
basah yang mampu menghapus lebatnya air mata ini yang meluncur bebas tanpa
penghalang ini.
Begitu
cepatnya dunia Mu Ya Rabb, begitu hebatnya dunia Mu ya Muhaimin, begitu
dasyatnya Engkau menguji keimanan kami Ya Rahim. Dua buan berlalu dengan
sigapnya tak terasa asap yang menari indah makin menjadi jadi saja tingkah
kelakuannya, entah siapa yang akan di salahkan entah siapa yang akan di tuding,
entah pemerintah mana yang akan di lawan. Banyaknya hujatan yang terlontar dari
mulut mahasiswa kepada pemerintah dengan kata yan g tidak mengenakan hati,
bahkan hati mereka yang tidak merasa tersayat dengan hujatan tersebut. Entah
bumi yang sudah mulai tua entah manusia yang sudah mulai punah dengan kelakuan
baiknya , dimana budi pekerti yang dulu ada
dimana tutur kata yang elok di dengar, entahlah mungkin sudah lenyap
sudah pudar hanya karena asap yang setiap pekan memakan korban.
Plang-plang
hujatan kepada pemerintah semakin marak di kalangan mahasiswa , bahkan seorang
siswa pun mampu mengatakan kata-kata yang tak seronok kepada pemerintah. Siapa
yang akan disalahkan siapa yang akan dihukum bukan sistem yang salah melainkan penindak hukum yang lalai dengan pekerjaannya.. Ini bukan keluh kesah seorang mahasiswa baru melainkan rasa gundah gulana dan kehawatiran yang akan menimpa bumi ibu pertiwi ini... masyarakat yang tak bersalah jadi korban, sedangkan yang melakukan hanya mampu mengucap"maaf pak itu puntung rokok yang membuat kebakaran ini",,,, apa mungkin ,, sepuntung rokok mampu membakar hutan bakau yang berhekatar hektar ini??? yang benar saja .... omong kosong apa ini ,,, sekarang masyarakat tak bisa berbicara hanya mampu bungkam dan berdiam diri tanpa mampu membela diri ,, bodohh,, hanya diam bodohh dengan keadaan yang setiap tahun tidak pernah absen ini....
bersambung.....