Kamis, 26 November 2015



  Jangan Sesali AKHIRnya....
Pilu rasanya mengenang langit yang mulai pudar akan indahnya,terik matahari yang dihalang perdu sudah tak tampak cahayanya. Hari ini hanya songsongan angin yang menghembus dengan geramnya  tanpa menghiraukan mereka yang dilaluinya. Tak ada hujan, tak ada panas namun tanah ku begitu gersang dan tandus tanpa penghuni. Ya Allah, apakah ini teguran Mu ataukah ini hanya lelucon yang sedang mereka adegankan? Entahlah, rasanya masih sesak di pelepis dada menyaksikan asap-asap yang menyelimuti kami.
            Rabu,2 September 2015, masih dini rasanya merakasan gebu-gebu dalam jiwa untuk mengawali pagi dengan status mahasiswa , gontaian kaki yang menyisiri setapak jalan merupakan semangat yang baru terbakar. Entah apa yang membuat mentari pagi mogok bersinar sehingga bayangan tak kunjung terlihat. Awam rasanya bagi kami yang datang jauh dari pelosok negri sana, menyaksikan gumpalan awan yang lengkap dengan warna pekat menyelimuti kota hebat ini. Tak ada yang berubah dengan tatanan kota, masih sama dengan dua atau tiga hari yang lalu, hanya saja penduduk yang sudah mulai menggunakan penutup wajah.
 Waktu menunjukan pukul 09:15, langkah kaki berhenti didepan ruangan A1, dengan nafas yang masih tersengal di ujung kerongkongan, batin ku berbisik “hai new class,how are you? What are doing?what your feel same to me for today?” . Entah mengapa kata-kata itu terbesit disaat mata ku menyisiri sudut-sudut  ruangan itu.  Sontak kesunyian itupun buyar, sosok wanita berparas khas melayu menyapa ku “macam bangau kau termenung disitu ci, ayolah masuk” , sulit bibir ini menjawab karena masih terpaku oleh fikiran tadi “i iya na,kamu ini mengejutkan saja” yang di balas senyuman halus seorang Diana .
            Empat jam terlalui laksana fajar sudah habis rasanya, tinggal lembayung senja yang  mulai tampak identitasnya. Namun, pekatnya asap yang tadinya kuduga awan tak  mau beranjak juga. Masih dengan keadaan yang sama menyisiri jalan yang serupa dan tak ada yang berubah, hanya saja langit biru tak kunjung ceria bahkan matahari hanya sebuah pajangan semata tanpa melihatkan cahaya hebatnya. “Ya Rabb, ku harap esok matahari datang  dan membawa sinar indahnya kembali” sembari berjalan menikmati asap yang bergelayut di udara.
            Pagi ,siang dan menyongsong malam hadir dengan begitu sigapnya, terasa hidup diatas awan yang tak kunjung berubah menjadi butiran air hujan. Mungkin ini kali pertama bagi seseorang yang baru saja beranjak dewasa dan melepas seragam sekolah menengah atasnya menyaksikan malam yang amat gelap gulita. Langit yang tadinya suram kini berubah menjadi lebih legam, rembulan yang biasa menemani malam kini hilang di telan awan hitam. Taburan bintang yang seperti kismis kini hilang tertutup krim asap,berharap ada badai malam ini untuk menyingkap semua asap ini.
            Malam berganti pagi tak ada sedikit pun terdengar suara ayam berkokok, mungkin benar matahari sedang istirahat sejenak untuk hadir pagi ini. Sinar merah di ufuk timur tak kunjung terlihat, hanya gumpalan asap yang makin tebal dan menari indah di angkasa. Sudahlah  jangan berharap lebih matahari hadir pagi ini, cukup tutup mata saja berjalan kali ini. Masih canggung rasanya berjalan sendiri di antara kendaraan yang lalu lalang, orang-orang tumpah pagi ini dan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Begitupun asap yang sibuk mengikuti pusaran angin dan entah kemana akan beranjak,semoga saja jauh dari perkiraan.
Kini bukan perdu saja yang hilang dari pandangan namun juga gedung-gedung menjulang sudah tak tampak dari radius duapuluh meter, atap UR yang biasa terlihat dari luar pagar kini hanya tampak asap yang bergelayut diantaranya. Asap yang bertengger mampu menyulap orang-orang dari jarak sepuluh meter seperti zoumbie yang tak berdarah , “aishh,tak adakah dari mereka yang berbaik hati menumpangkan diriku yang tambun ini, andai saja diriku memiliki seorang kekasih seperti mereka diluar sana.”gerutuku dalam hati namun segerah ku tersadar “Separuh hidupku ku jalani sendiri ada atau tidak adanya cinta tidaklah masalah bagiku, karena sesungguhnya cinta dan keridhaan-Nya lah yang ku harapkan.
Helaan nafas masih juga terdengar dari mulut ini, seperti tak percaya dan tak terfikirkan asap makin hari makin tebal saja. Sembari berjalan, terdengar kabar seorang anak SD meninggal akibat gagal bernafas “ya Rabb, sudah Kau goncangan dunia ini dengan gempa dasyat dan kini Engkau hantarkan asap yang tak kunjung hilang ini,tak pernah lengah kami berdoa untuk dunia nan fana ini ya Rabb, agar asap hilang dan segera menyingkap dari peredaran tanah kuning ini” tuturan doa yang terlontarkan saat tangan menadahkan kepada Nya.
Langit biru ku sirna, pepohonan rindang ku menghitam,udara ku tak lagi bersih dan tubuh tak lagi berdaya melawan asap yang makin hari makin menggila ini. Berharap hujan badai datang hari ini dan membawa sejuta kenikmatan dari sang maha agung, pohon ku mulai merajuk karena tak sanggup mengeluarkan oksigen, udara tak lagi ingin lalu lalang di hadapan manusia, karena kalah oleh asap yang menghitam ini . ” Ya Rabb kini kami tadahkan tangan menghaturkan doa agar Kau mau memberikan secerca harapan  kepada mereka yang senantiasa beribadah dihadapan Mu, sebait doa agar Kau mau memberikan nikmat dunia segelintir saja agar kami bisa selalu bersenandung untuk Mu ya Muhhaimin, ribuan insan yang bergelimang dosa meminta kemurahan hati Mu untuk menghidupi paru-paru yang mulai lumpuh ini Ya Rahim”. Ratusan jamaah shalat  dan berdoa  untuk meminta hujan agar turun di tanah kuning nan gersang ini, ribuan tangan dengan rintikan air mata mengharap kemurahan sang Ilahi untuk menurunkan hujan yang mampu menyingkap semua  asap yang bersorak ria di hadapan juta insan .
Tepat pukul 15:20, semoga hujan ini benar-benar membawa berkah bagi kita semua namun apa di kata hujan yang tadinya membuat mata berbinar menyaksikannya  ternyata hanya mampu hadir tak kurang dari lima menit saja. Mata yang tadinya sayup ingin menitikan air mata berubah jadi gundah gulana tanpa celah. “untuk kedua kalinya hamba kecewa Ya Rabb, berharap rintikan hujan yang kau berikan mampu menghalau asap pekat ini,tak kah kau  mengerti Ya Rahman bukan hanya hamba yang bersedih penyaksian ini tapi mereka yang tak berdaya melawan asap ini hanya mampu menopang dagu tak bersalah mendapat buruknya kejadian ini, Ya Allah tak pernah ku meminta lebih kepada Mu, namun kali ini memang seharusnya hamba minta yang terbaik untuk kami semua, Ya Rahman , Ya Rahim kunjungilah dan jamak setiap doa kami agar hujan yang kami impikan benar-benar turun mengguyur kota yang penuh maksiat ini”, rintikan air mata tak dapat ku bendung lagi hanya tisu basah yang mampu menghapus lebatnya air mata ini yang meluncur bebas tanpa penghalang ini.
Begitu cepatnya dunia Mu Ya Rabb, begitu hebatnya dunia Mu ya Muhaimin, begitu dasyatnya Engkau menguji keimanan kami Ya Rahim. Dua buan berlalu dengan sigapnya tak terasa asap yang menari indah makin menjadi jadi saja tingkah kelakuannya, entah siapa yang akan di salahkan entah siapa yang akan di tuding, entah pemerintah mana yang akan di lawan. Banyaknya hujatan yang terlontar dari mulut mahasiswa kepada pemerintah dengan kata yan g tidak mengenakan hati, bahkan hati mereka yang tidak merasa tersayat dengan hujatan tersebut. Entah bumi yang sudah mulai tua entah manusia yang sudah mulai punah dengan kelakuan baiknya , dimana budi pekerti yang dulu ada  dimana tutur kata yang elok di dengar, entahlah mungkin sudah lenyap sudah pudar hanya karena asap yang setiap pekan memakan korban.
Plang-plang hujatan kepada pemerintah semakin marak di kalangan mahasiswa , bahkan seorang siswa pun mampu mengatakan kata-kata yang tak seronok kepada pemerintah. Siapa yang akan disalahkan siapa yang akan dihukum bukan sistem yang salah melainkan penindak hukum yang lalai dengan pekerjaannya.. Ini bukan keluh kesah seorang mahasiswa baru melainkan rasa gundah gulana dan  kehawatiran yang akan menimpa bumi ibu pertiwi ini... masyarakat yang tak bersalah jadi korban, sedangkan yang melakukan hanya mampu mengucap"maaf pak itu puntung rokok yang membuat kebakaran ini",,,, apa mungkin ,, sepuntung rokok mampu membakar hutan bakau yang berhekatar hektar ini??? yang benar saja .... omong kosong apa ini ,,, sekarang masyarakat tak bisa berbicara hanya mampu bungkam dan berdiam diri tanpa mampu membela diri ,, bodohh,, hanya diam bodohh dengan keadaan yang setiap tahun tidak pernah absen ini.... 
bersambung..... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar